Pengantar : Artikel ini re-post karena sudah pernah saya rangkum dari beberapa sumber sekitar 3 tahun yang lalu... saat isu serupa pernah merebak. Kenapa berulang ya?

Apaan sih Sakazakii? Emangnya berbahaya ya?

Nama Lengkapnya: ENTEROBACTER SAKAZAKII. Ini jenis bakteri yang berasal dari keluarga: ENTEROBACTERIACEAE yang terdiri dari sejumlah spesies bakteri yang nangkring di usus besar manusia atau binatang, tapi ada juga sih di lingkungan sekitar. Nah, mikroorganisme ini dapat mengakibatkan penyakit MENINGITIS (radang selaput otak), SEPSIS (radang pada peredaran darah), serta ENTERITIS (radang usus) pada bayi.

Pada penelitian terdahulu, diketahui sekitar 20% sampai >50% bayi yang terpapar penyakit akibat bakteri meninggal dunia. Beberapa penyakit yang ditelusuri merupakan dampak dari sufor yang terkontaminasi banyak terjadi di Ruang Isolasi Bayi di Rumah Sakit di seluruh dunia. Bayi yang dapat bertahan hidup justru mengalami komplikasi serta gangguan syaraf (neurological disorder). Sedangkan dampak terhadap orang dewasa tidak berbahaya. Faktor utamanya adalah karena tingkat keasaman perut bayi lebih rendah daripada pada orang dewasa.

Siapa yang paling mungkin kena?

Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada semua golongan usia, tapi berdasarkan penelitian sih.. yang PALING MUNGKIN terpapar adalah bayi baru lahir (khususnya yang usia <28 hari), bayi prematur (usia janin <36 minggu), bayi dari ibu yang mengidap HIV+ (khususnya yang mengkonsumsi sufor), BBLR (bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah, yakni <2000 gram) yang biasa disebut IMMUNICOMPROMISED INFANT. Karena di Indonesia banyak banget kasus BBLR cukup banyak, mestinya hal ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

Bakteri ini datang darimana? Apakah terdapat pula dalam usus besar manusia?

Habitat alami bakteri ini belum diketahui dengan pasti, namun bakteri ini ditemukan dalam usus besar manusia sehat, yang kemungkinan besar berbentuk intermittent guest. Dapat pula ditemukan dalam usus besar binatang serta pada lingkungan yang lembab.

Trus, kok bisa mengkontaminasi susu formula? Apa ada di jenis makanan lain juga?

Ada 3 (tiga) cara bakteri ini masuk ke dalam komponen susu formula, yakni :

  1. Melalui bahan mentah yang dipakai dalam sufor;
  2. Melalui kontaminasi pencampuran atau jenis komponen kering lain setelah proses pasteurisasi; serta
  3. Melalui kontaminasi pencampuran susu dengan air pada saat penyajian sebelum diminum oleh bayi.

Sebenernya bakteri ini ditemukan juga dalam beragam jenis makanan lain, tapi yang terkait dengan munculnya penyakit yah baru di kasus sufor (dan kasus di negri kita ini yah makanan instan).

Apakah Sufor hanya mengandung bakteri ini ? Atau sebenarnya ada juga jenis bakteri lain?

Standar internasional sudah tidak memperbolehkan adanya patogen jenis SALMONELLA dalam produk sufor bubuk. Standar Codex WHO adalah tidak boleh terdapat Salmonella dalam 60 sampel (masing-masing 25 gram). Peraturan ini sangat ditekankan khususnya di Uni-Eropa. Tapi, tetap ada aja ditemukan Salmonella dalam produk sufor bubuk. Penyebabnya belum begitu jelas, bisa jadi terkontaminasi di rumah atau di Tempat Penitipan Anak (TPA).

Trus, kalo bayi ASIX (ASI eksklusif), mungkin terkena juga nga?

Berdasarkan penelitian, belum pernah ada kasus bayi ASIX yang terpapar bakteri ini, yang ada juga dari 50-80% kasus, sufor bubuk adalah SUMBER dan SARANA (baik langsung maupun tidak langsung) bakteri ini untuk menyebabkan penyakit.

Resiko dari kasus ini di negara maju apakah sama juga?

Yah, data yang ada menunjukkan bahwa resiko di negara maju lebih sedikit. Kemungkinan bisa saja disebabkan oleh kurangnya perhatian akan masalah ini atau memang tidak munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Karena penggunaan sufor sangat banyak maka dampaknya pada bayi mestinya menjadi perhatian khalayak. Herannya, di Indonesia hal ini kok malah ditutup-tutupi? Pantesan aja banyak ibu yang masih merasa enggan menyusui bayi mereka (ini khusus untuk para ibu yang emang tidak berkeinginan loh lah.. bukan yang tidak bisa karena alasan medis...) karena tidak pernah tau dampak buruk dari sufor.

Lalu gimana dengan resiko yang mungkin terjadi di TPA?

WHO merekomendasikan supaya para pengasuh bayi, khususnya bayi yang paling mungkin terpapar (<1 tahun), menyadari bahwa : Sufor bukanlah produk yang steril ! Pada kasus ibu yang tidak dapat menyusui maka mereka dianjurkan untuk memberikan, jika memungkinkan, produk susu formula cair yang steril. Tapi produk ini cukup sulit untuk dicari, kalau pun ada biasanya harganya mahal banget.

Atau yah, sufor bubuk yang paling tidak sudah mengikuti tahapan dekontaminasi saat proses penyaduhan, yakni disaduh dengan air mendidih (>70˚C: bukan air dari dispenser) atau dengan memanaskan sufor yang sudah dicampur. Rentang waktu pemberian susu setelah disaduh katanya sih dapat mengurangi resiko terjangkitnya penyakit oleh bakteri ini.

Kalau terpapar, gejalanya seperti apa?

SEPSIS (radang pada peredaran darah), MENINGITIS (radang selaput otak) serta ENTERITIS (radang usus) adalah gejala infeksi bakteri ini yang terjadi khususnya pada bayi. Tanda-tanda ini biasanya diikuti juga dengan seizure (fenomena temporer ketidaknormalan fisio-elektro otak akibat ketidaknormalan syaraf), kelumpuhan otak, hidrosefalus, keterlambatan perkembangan, serta kematian ! Infeksi ini juga berdampak pada defisiensi syaraf khususnya yang terkait dengan bakteri meningitis dan cerebritis (berhubungan dengan otak). Penulis artikel Emerging Infectious Disease (yang dipublikasikan oleh Centers of Disease Control and Prevention pada Agustus 2006) menyatakan bahwa 40-80% bayi yang terinfeksi bakteri ini meninggal.

Sayangnya, sangat sedikit pengetahuan tentang faktor patogensi (sifat yang berdampak sebagai penyakit) dari bakteri ini. Beberapa strain/galur yang terdapat dalam kultur jaringan di laboratorium menunjukkan perbedaan strain/galur bakteri ini dengan strain/galur yang tidak bersifat patogen.

Biasanya penyakit tersebut membutuhkan terapi antibiotik, namun akibat reaksinya yang cukup responsif terhadap pengaruh terapi tersebut, sehingga Enterobacter yang sudah terbentuk menjadi semakin resisten (jadi SUPER BUGS yang membutuhkan dosis yang makin tinggi, sehingga pemberian AB harus lewat infus).

Sebenernya, masih bisa dicegah tidak ya?

Meskipun tempat penampungan organisme ini masih belum dikenal, namun berdasarkan banyaknya pertumbuhan infeksi yang terjadi pada bayi menekankan bahwa Sufor bubuk merupakan sumber dari infeksi tersebut. Pada beberapa penelitian tentang infeksi yang muncul pada bayi oleh bakteri ini, khususnya pada bayi yang baru lahir (<28 hari), para peneliti telah mampu membuktikan baik secara statistik maupun hubungannya dengan mikrobiologi antara infeksi dengan konsumsi sufor bubuk.

Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa SUFOR BUBUK bukanlah produk yang steril. Karena susu jenis ini melalui prosesnya (proses pemanasan) dapat dimasuki oleh jenis bakteri ini. Berbeda dengan sufor cair yang tidak berada pada suhu tinggi dalam beberapa waktu sebelum akhirnya dikemas secara steril.

FDA (Food and Drugs Administration) menegaskan bahwa resiko dari infeksi ini tergantung dari beberapa faktor, di antaranya adalah:

  • berapa banyak jumlahnya di dalam produk tersebut,
  • bagaimana cara penyajian susu,
  • serta kondisi penderita (misal bayi baru lahir, bayi prematur, BBLR, serta immunosuppression/kelainan antibodi).

Sufor bubuk dapat menjadi media pertumbuhan bakteri ini, sehingga perpanjangan periode penyimpanan dapat meningkatkan jumlah bakteri yang sudah bernaung. Para petugas kesehatan mungkin dapat mengurangi resiko bagi bayi-bayi baru lahir yang sedang dirawat melalui pemberian susu alternatif sebagai pengganti sufor bubuk jika memungkinkan.

FDA merekomendasikan UNTUK TIDAK MEMBERIKAN SUFOR BUBUK KEPADA BAYI-BAYI YANG BARU LAHIR ! Kecuali tidak ada pilihan lain.

Namun, jika memang tidak ada pilihan lain, maka untuk mengurangi resiko dapat dilakukan beberapa hal berikut:

  • Siapkan hanya sedikit sufor pada setiap waktu menyusu untuk mengurangi jumlah dan waktu susu ini berada pada suhu kamar sebelum dikonsumsi;
  • Minimalkan jarak penyajian dengan konsumsi, baik dalam suhu kamar maupun di dalam kulkas, misal dengan jarak masimum 4 jam. Sebab semakin lama rentang waktunya maka kemungkinan bakteri untuk berkembang biak akan semakin besar.

Tapi maaf saya tidak bisa memberikan info lebih lengkap soal ini. Tapi ada juga solusi lain untuk masalah ini, yakni : Kembali ke ASI.

Kembali ke ASI, Bagaimana caranya?

Ada beberapa cara untuk kembali ke ASI, bisa dengan cara relaktasi. Apa itu relaktasi? Yakni upaya untuk kembali menyusui. Upaya ini bukan hanya berlaku bagi ibu yang pernah menyusui lalu berhenti karena sesuatu dan lain hal, tapi dapat pula diupayakan oleh seorang ibu adopsi untuk dapat menyusui anak adopsinya. Amazing yah ! Jika dibutuhkan, para konselor laktasi AIMI siap mendampingi para ibu yang ingin kembali menyusui. Salam ASI.

Beberapa link terkait berita ini:

Waktu kasus ini merebak di tahun 2008, AIMI sempat melakukan aksi turun ke jalan untuk mengajak para ibu kembali ke ASI. Bisa klik di sini: http://mapetitelentera.multiply.com/photos/album/56/AIMI_turun_ke_jalan


Terdapat pada kategori Informasi pada 21 Feb 2011

Informasi Lainnya

The EATERY Project

AIMI Pusat: Kelas MPASI Februari 2020