Penulis: Mia Sutanto - Konselor Menyusui AIMI, Ketua AIMI Pusat

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sudah ada di Indonesia sejak akhir tahun 2006 atau sekitar awal tahun 2007. Saat ini, banyak bayi-bayi di Indonesia yang setelah lahir sudah langsung mendapatkan dekapan hangat, skin to skin, dari bundanya selama minimal 1 jam. Tapi bagaimana setelah itu? Apakah dekapan skin to skin hanya terjadi saat proses IMD saja? Apa yang terjadi seandainya setelah itu ibu dan bayi dipisahkan, tidak dirawat dalam 1 kamar selama 24 jam, bayi selalu dalam jangkauan ibunda tercinta?

Teori Dasar

Ketika bayi mamalia yang baru dilahirkan dipisahkan dari ibunya, bayi tersebut akan mengeluarkan “tangisan kesakitan” dan mengalami beberapa perubahan fisiologis yang dapat dilihat. Menurut dr. Nils Bergman, bayi manusia – sama dengan bayi mamalia lainnya – mempunyai program fisiologis mendasar yang merupakan kunci terhadap keselamatan dan pertumbuhan dirinya (Bergman, 2008). Perubahan lingkungan atau “habitat” akan dialami oleh seorang bayi baru lahir, mulai dari rahim, tubuh ibu, keluarga, dan dunia luar. Tubuh ibu adalah “habitat” sewajarnya bagi seorang bayi segera setelah kelahirannya. Oleh karena itu, ketika seorang bayi baru lahir dipisahkan dari tubuh ibunya, dia akan mengalami fase pertahanan yang dimulai dengan “tangisan kesakitan akibat dipisahkan”. Apabila tangisannya tidak ditanggapi, bayi akan memasukin fase putus asa dimana untuk meningkatkan kemungkinannya untuk bertahan hidup, tubuh bayi akan mengurangi penggunaan energi dengan cara menurunkan detak jantung, pernafasan serta suhu tubuh. Pada fase ini, hormon stresnya bertambah karena bayi mulai mempersiapkan diri berjuang untuk bertahan hidup dengan cara mengurangi fungsi usus, pencernaan dan pertumbuhan.

Saat Lahir

Segera setelah persalinan, baik normal maupun caesar, bayi dikeringkan (kecuali kedua tangannya) dan diletakkan tengkurap, skin to skin diatas dada ibunya minimal selama 1 jam. Dalam suatu penelitian, telah ditemukan bahwa ternyata bayi akan melakukan gerakan-gerakan yang sangat khas, yang kemudian membantu meningkatkan hormon oksitosin ibu sehingga merangsang kontraksi rahim, melancarkan refleks aliran ASI dan memperkuat interaksi ibu dan bayi.

  1. menit ke-6, bayi mulai membuka mata
  2. menit ke-11, mulai memijat payudara ibu
  3. menit ke-12, memasukkan tangan ke mulut
  4. menit ke-21, mulai mencari-cari putting pada payudara ibu
  5. menit ke-25, meletakkan tangan yang sudah dibasahi diatas payudara ibu; putting menjadi menonjol
  6. menit ke-27, mengeluarkan lidah dan mulai menjilati puting
  7. menit ke-80, mulai menyusu sendiri

Dari keterangan diatas, jelas bahwa apabila bayi hanya diletakkan diatas dada ibunya kurang dari 1 jam, atau bahkan tidak sama sekali, berbagai refleks kehidupan sebagaimana terurai diatas, dan juga manfaat-manfaat lainnya dari kontak skin to skin selama proses IMD tidak akan didapatkan oleh bayi. Berbagai manfaat tersebut antara lain, bayi berkurang resiko untuk hipotermia karena dada ibu yang bersifat thermoregulator, hormon stres bayi berkurang, hormon oksitosin ibu meningkat, bayi mendapatkan manfaat perpindahan bakteri baik dari kulit ibu dan kesempatan bonding pertama kali. Penelitian juga menunjukkan bahwa bayi-bayi yang melakukan IMD, ataupun menyusu untuk pertama kalinya dalam 2 jam pertama setelah kelahirannya, lebih banyak minum ASI pada hari ke-4 dibandingkan dengan mereka yang mulai menyusu pertama kali setelah 2 jam kelahiran. Rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang mendukung kegiatan menyusui sebagaimana terjabarkan dalam 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui, jelas-jelas tidak akan memisahkan ibu dan bayi, baik segera setelah proses persalinan maupun setelah itu selama masa perawatan. Tempat bayi sehat adalah bersama ibunya, jadi memang sesungguhnya tidak diperlukan kamar bayi sehat dalam suatu maternity ward.

Saat Rawat Gabung

Kontak skin to skin tentu tidak hanya terjadi di ruang persalinan, namun sebaiknya diteruskan saat rawat gabung di rumah sakit ataupun ketika sudah kembali ke rumah. Banyak sekali hal yang mempengaruhi kegiatan menyusui di hari-hari awal kehidupan seorang bayi. Selain proses kelahiran itu sendiri, faktor terbesar yang mempengaruhi adalah seberapa sering bayi berada dalam kondisi skin to skin dengan ibunya. Hal ini ternyata adalah faktor kunci terhadap kestabilan kondisi si bayi dan stimulus untuk merangsang insting menyusui yang terdapat pada dirinya. Penelitian menunjukkan bahwa selama masa yang genting ini, kontak skin to skin melancarkan saat-saat transisi seorang bayi baru lahir ke dunia, dan memisahkan bayi dari ibu merupakan pemicu stres yang utama dan, antara lain, merupakan menyebab terjadinya permasalahan menyusui di kemudian hari.

Perubahan fisiologis yang terjadi ketika seorang bayi baru lahir dipisahkan dari ibunya adalah:

  • suhu badan yang lebih rendah
  • tingkat gula darah yang lebih rendah
  • berada dalam keadaan yang tidak tenang, lebih sering menangis (10 kali lebih sering), tingkat hormon stres yang lebih tinggi, dan kurang tidur
  • lebih banyak permasalahan menyusui
  • kurang minum ASI

Sebaliknya, dibandingkan dengan bayi-bayi yang berada di kamar bayi sehat, bayi-bayi yang rawat gabung dan tetap berada dalam kondisi kontak skin to skin dengan ibunya mempunyai ciri-ciri:

  • berada dalam kondisi tidur diam lebih lama, menandakan kontrol batang otak yang lebih bagus
  • lebih tenang dan jarang menangis, menandakan kontrol keadaan diri yang lebih bagus
  • sedikit melakukan gerakan-gerakan tanpa tujuan, menandakan kontrol motorik yang lebih bagus
  • memperlihatkan otot yang diregangkan dan bukan ditegangkan, menandakan tingkat stres yang lebih rendah

Kontak skin to skin juga dapat membantu untuk mengatasi permasalahan dini seputar menyusui. Waktu yang digunakan untuk melakukan kontak skin to skin sebelum menyusui, ternyata dapat mengurangi stres dan menurunkan tekanan darah ibu. Terlebih lagi, kontak skin to skin dapat membantu meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif.

Rawat gabung 24 jam ibu dan bayi, dimana bayi selalu berada dalam jangkauan ibu sangat membantu untuk melancarkan kegiatan menyusui. Selain faktor kontak skin to skin, apabila ibu dan bayi selalu bersama, maka:

  • bayi yang dipisah dari ibunya tingkat hormon stres akan naik 2 kali lipat sehingga imunitas tubuh akan berkurang sebesar 50%
  • bayi dapat sesering mungkin menyusu sesuai dengan kemauannya, sehingga mekonium lebih cepat keluar, terhindar dari resiko jaundice, hipoglicemia, berat badan turun
  • terlalu banyak (lebih dari 10%) atau lebih cepat kembali ke berat lahir, dehidrasi
  • ibu dapat lebih cepat membaca tanda-tanda bayi siap menyusu, tidak perlu menunggu bayi menangis
  • ibu dan bayi dapat sesering mungkin, sesuai dengan kemauan bayi, melakukan sehingga memantapkan kegiatan menyusui
  • bayi terhindar dari resiko pemberian makanan prelaktal
  • kolostrum lebih cepat mengalami transisi menjadi ASI matur

Saat Di Rumah

Kontak kulit antara ibu dan bayi tidak terbatas hanya pada saat di rumah sakit, ketika di rumahpun kegiatan ini bisa tetap dilakukan. Bayi baru lahir senantiasa harus menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, semua harus serba belajar, serba beradaptasi. Dekapan hangat bunda tercinta akan menenangkannya dan membuat dia tidak stres dalam menjalankan semua itu. Menurut suatu penelitian, telah ditemukan bahwa manusia memang tergolong “carry mammals” artinya kita adalah spesies mamalia yang memang diciptakan untuk mendekap dan menggendong bayi kita. Jadi, sebenarnya istilah bayi jangan sedikit-sedikit digendong karena takut 'bau tangan' adalah kurang tepat ya? Biasanya karena alasan takut bayi jadi manja kalau setiap nangis lantas digendong, jadi tergantung sama ibunya, dan sebaiknya kita tidak perlu selalu menuruti keinginan bayi agar dia bisa belajar untuk menjadi anak yang tidak terlalu demanding. Kalau mencermati alasan-alasan tersebut, kesannya seorang bayi adalah manusia yang manipulatif dan selalu menyusahkan ibu dan orang dewasa disekitarnya. Padahal keinginan untuk didekap dan digendong adalah basic instict dari seorang manusia untuk reach out dan menjalin human contact dengan manusia lain, karena kita adalah makhluk sosial. Kita saja yang orang dewasa senang dipeluk ya? Oleh karena itu, penelitian menunjukkan bahwa just bayi-bayi menangis yang cepat direspon oleh orangtuanya dengan cara digendong, akan lebih jarang menangis dan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan percaya diri.

So, tunggu apa lagi? Gendonglah malaikat kecil anda yang menggemaskan itu. Dekaplah dia dalam posisi skin to skin kapanpun yang anda inginkan. Justru hal ini juga membantu bunda untuk rileks loh, karena saat berpelukan skin to skin hormon oksitosin akan meningkat, sehingga selain melancarkan kegiatan menyusui membuat ibu jadi tenang dan rileks.

Salam ASI!


Terdapat pada kategori Informasi pada 19 Sep 2012