Seperti ditulis oleh Marsia Dewi, Konselor Menyusui dan Anggota Divisi SDM dan Pengembangan Organisasi AIMI Pusat, di The Urban Mama.

Saat menanti kehadiran buah hati, sebagian besar ibu umumnya sudah tahu bahwa ASI merupakan asupan terbaik bagi bayi, dan ingin menyusui bayinya setelah lahir. Namun kenyataannya, di hari-hari awal setelah kelahiran bayi, ibu sering menemui kesulitan, apalagi bila ini adalah pengalaman pertama. Berbagai pertanyaan, keluhan dan kekhawatiran muncul pada ibu di hari-hari pertama ini. Yuk, kita coba bahas, apa saja yang perlu kita ketahui untuk mempersiapkan hari-hari awal menyusui dan tantangannya.

Hal pertama yang perlu dilakukan setelah melahirkan adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD), yaitu  kontak kulit pertama ibu dan bayi segera setelah bayi lahir, minimal selama 1 jam. Saat IMD, bayi memperoleh kolostrum dan sentuhan bayi merangsang hormon oksitosin yang akan membantu kelancaran ibu menyusui sejak awal. Kesempatan IMD hingga tuntas dapat mengurangi kemungkinan ibu dan bayi mengalami kesulitan menyusui dan meningkatkan persentase keberhasilan ibu menyusui eksklusif selama 6 bulan. IMD menurunkan resiko hipotermia dan kematian akibat kedinginan. Selain itu IMD juga terbukti mengurangi stress pada bayi, bayi menjadi lebih tenang, pernafasan dan detak jantung lebih stabil, menjaga kestabilan kadar gula darah dan bayi mendapat kuman baik (prebiotik dan probiotik Lactobacillus sp) dari dada ibu yang penting bagi pencernaan bayi baru lahir.

IMD dapat dilakukan setelah persalinan normal maupun caesar, dengan syarat ibu dan bayi dalam kondisi stabil. Agar IMD dilakukan sesuai tatalaksana yang benar, ayah dan ibu perlu berdiskusi dengan tenaga kesehatan jauh hari sebelum kelahiran bayi. Pastikan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan siap mendukung ibu dan bayi untuk mendapat kesempatan IMD dengan nyaman.

Setelah IMD, ibu dan bayi dirawat di kamar yang sama, yaitu rawat gabung. Memisahkan ibu dan bayi akan menyulitkan ibu untuk menyusui dan mengenal tanda lapar bayi serta dapat menurunkan daya tahan tubuh bayi. Dengan melakukan rawat gabung, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengenali saat bayinya ingin menyusu dan ibu dapat lebih cepat merespon kebutuhan bayi. Menangis adalah salah satu tanda akhir yang ditunjukkan bayi saat lapar. Bayi yang menangis dan frustasi akan lebih sulit untuk disusui. Merespon bayi segera setelah menunjukkan tanda lapar akan memudahkan ibu untuk memposisikan dan melekatkan bayi ke payudara dengan baik, sehingga bayi pun mudah mendapatkan ASI dan ibu terhindar dari puting luka.

 Pertanyaan yang umum diajukan oleh ibu yang baru melahirkan adalah kapan ASI akan keluar, atau mengapa ASI-nya sedikit sekali. ASI sudah diproduksi di payudara ibu sejak trimester kedua kehamilan, dan sudah siap diminum bayi begitu bayi lahir. Lambung bayi berusia satu hari hanya seukuran kelereng, yaitu dengan kapasitas sekitar 5-7 ml. Pada hari ketiga, lambung bayi hanya dapat menampung 25-30 ml.  Jumlah ASI (kolostrum) yang dihasilkan ibu di tiga hari pertama pasca persalinan sesuai dengan kapasitas lambung bayi. Walaupun jumlahnya sedikit, kolostrum penuh dengan zat antibodi dan anti infeksi yang dibutuhkan bayi baru lahir. Kandungan kolostrum juga tidak tergantikan untuk kesehatan pencernaan, mencegah penyakit kuning (jaundice), bahkan meningkatkan kecerdasan bayi.

Seiring berjalannya hari, kolostrum akan mengalami peralihan menjadi ASI matang, dengan volume yang lebih banyak. Agar produksi ASI mengikuti kebutuhan bayi, ibu sebaiknya menyusui bayi sesuai keinginan bayi, umumnya 8-12 kali sehari dalam dua minggu pertama.

Walaupun sudah dapat menyusui dengan nyaman, kadang ibu masih memiliki kekhawatiran apakah bayinya mendapatkan ASI yang cukup. Hal utama yang dapat ibu perhatikan untuk mengetahui kecukupan bayi minum ASI adalah BAK (buang air kecil) dan BAB (buang air besar) bayi. Bayi yang mendapat cukup ASI akan BAK minimal satu kali pada hari pertama, dan frekuensinya bertambah seiring pertambahan usianya, hingga menjadi minimal 5-6 kali sehari pada usia 7 hari dan seterusnya. Bayi juga akan mengeluarkan mekonium pada 48 jam pertama, sehingga feses akan berwarna hitam atau hijau tua dan lengket. Saat payudara mulai mengeluarkan ASI peralihan (usia 3-4 hari), feses bayi akan berwarna kehijau-hijauan atau kuning kecoklatan serta berbutir kasar dan bayi BAB minimal 2x sehari. Di hari ke-6 dan seterusnya feses bayi ASI eksklusif berwarna kuning keemasan, encer berampas dan berbutir-butir.

Akhirnya, dukungan dari suami dan keluarga terdekat adalah yang utama dan terpenting untuk membantu ibu melewati hari-hari pertama menyusui. Orang-orang di dekat ibu dapat membantu ibu untuk tetap percaya diri dan tenang dalam menghadapi berbagai tantangan menyusui. Ketika ibu percaya diri dan rileks, ASI akan mengalir lancar dan tantangan akan terlewati.


Terdapat pada kategori Informasi pada 06 Oct 2016